jump to navigation

PERJANJIAN EKSTRADISI September 26, 2007

Posted by pengasuh in Siyasah.
trackback

Oleh : Syamsuddin Ramadhan

Perjanjian internasional (al-mu’ahidah al-duwaliyyah) adalah kesepakatan yang dibatasi dengan waktu tertentu dan ditandatangani oleh Daulah Islamiyyah dengan negara lain atau entitas-entitas yang selevel dengan negara, untuk mengatur hubungan yang legal dan spesifik antara dua belah pihak dengan menyebutkan aturan-aturan maupun syarat-syarat yang mengatur hubungan tersebut.Pada dasarnya, kaum Muslim boleh mengadakan perjanjian dengan kaum Kafir.  Hanya saja, perjanjian tersebut harus dibatasi waktunya (tidak berujud perdamaian abadi), dan ditujukan untuk kemashlahatan jihad atau penyebaran Islam.  Dalil kebolehannya adalah, perjanjian Hudaibiyyah yang ditandangani oleh Rasulullah saw dengan kaum Quraisy. Namun, jika perjanjian dengan pihak kafir tersebut tidak ditujukan untuk kemashlahatan dakwah dan jihad, maka hukum membuat perjanjian dengan kaum kafir adalah haram.  Alasannya, perjanjian dengan kaum kafir bisa menyebabkan terhentinya aktivitas jihad atas negara kafir tersebut; dan hal ini tidak boleh terjadi, kecuali perjanjian tersebut merupakan media antara untuk kepentingan jihad dan dakwah.    Allah swt berfirman; xs (#qZÎgs? (#þqããô‰s?ur ’n<Î) ÉOù=¡¡9$# ÞOçFRr&ur tböqn=ôãF{$# ª!$#ur öNä3yètB `s9ur óOä.uŽÏItƒ öNä3n=»uHùår& ÇÌÎÈ “Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu”.[TQS Mohammad (47):35]          Perjanjian harus dibatasi masa berlakunya, dan tidak boleh berujud perjanjian abadi.  Bahkan, pembatasan masa perjanjian merupakan syarat sah atas perjanjian dengan kaum kafir.  Sebab, tidak adanya batas waktu, alias keabadian perjanjian akan menyebabkan terhentinya aktivitas jihad.  Padahal, jihad atas negeri-negeri kafir hukumnya wajib bagi Daulah Khilafah Islamiyyah.           Jika perjanjian dengan kaum kafir telah ditandatangani, kaum Muslim wajib menjunjungi tinggi dan memenuhi butir-butir perjanjian, hingga berakhirnya batas waktu perjanjian, atau hingga mereka telah memutuskan perjanjian tersebut karena alasan-alasan tertentu; misalnya karena berkhianat, melanggar butir perjanjian, menyerang kaum Muslim atau dzimmiy, dan lain sebagainya.   Perjanjian juga batal, jika Daulah Khilafah Islamiyyah khawatir akan pengkhianatan mereka berdasarkan bukti-bukti yang cukup.  Ketentuan semacam ini didasarkan pada firman Allah swt berikut ini; y#ø‹Ÿ2 ãbqä3tƒ tûüÅ2Ύô³ßJù=Ï9 î‰ôgtã y‰YÏã «!$# y‰ZÏãur ÿ¾Ï&Î!qߙu‘ žwÎ) šúïÏ%©!$# óO›?‰yg»tã y‰YÏã ωÉfó¡yJø9$# ÏQ#tptø:$# ( $yJsù (#qßJ»s)tFó™$# öNä3s9 (#qßJŠÉ)tGó™$$sù öNçlm; 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† šúüÉ)­GßJø9$# ÇÐÈ Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin, kecuali orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharaam? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa“.[TQS Al-Taubah (9):7] $¨BÎ)ur  Æsù$sƒrB `ÏB BQöqs% ZptR$uŠÅz õ‹Î7/R$$sù óOÎgø‹s9Î) 4’n?tã >ä!#uqy™ 4 ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä† tûüÏYͬ!$sƒø:$# ÇÎÑÈ “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.[TQS Al-Anfaal (8):58]bÎ)ur (#þqèWs3¯R NßguZ»yJ÷ƒr& .`ÏiB ω÷èt/ öNÏdωôgtã (#qãZyèsÛur ’Îû ôMà6ÏZƒÏŠ (#þqè=ÏG»s)sù sp£Jͬr& ̍øÿà6ø9$#   öNßg¯RÎ) Iw z`»yJ÷ƒr& óOßgs9 öNßg¯=yès9 šcqßgtG^tƒ ÇÊËÈ Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, Karena, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti“.[TQS Al-Taubah (9):12]          Atas dasar itu, jika kaum kafir merusak perjanjian, atau mengabaikan salah satu butir perjanjian, maka mereka telah membatalkan perjanjian; dan halal bagi kita untuk memerangi mereka pada saat itu juga (pada saat mereka membatalkan atau merusak isi perjanjian).  Perjanjian EkstradiksiPerjanjian ekstradisi bagi para pelaku kriminal adalah suatu perjanjian yang mengharuskan negara yang menandatangani perjanjian tersebut untuk menyerahkan seseorang atau orang-orang yang berada di wilayahnya kepada negara lain yang meminta agar orang itu diserahkan untuk diadili atas kejahatan yang dituduhkan kepadanya atau untuk menerapkan hukuman/sanksi yang telah diputuskan untuknya oleh pengadilan negara yang meminta ekstradisi tadi.Pelaksanaan pengembalian pelaku kriminal itu disesuaikan dengan perjanjian yang telah disepakati, mulai dari prosedur penyerahan; batasan-batasan orang-orang yang boleh dikembalikan, dan jenis-jenis kejahatan yang mengharuskan ekstradisi.  Dalil Disyari’atkannya Perjanjian EkstradisiPada dasarnya, perjanjian ekstradisi dibolehkan berdasarkan sunnah.  Sebab, di dalam perjanjian Hudaibiyyah Hudaibiyyah terkandung butir yang mengharuskan kaum Muslim mengembalikan penduduk Mekkah yang Muslim dan datang kepada mereka.  Hal ini menunjukkan bahwa negara-negara asing boleh meminta kembali rakyatnya karena kejahatan yang mereka lakukan di negeri mereka.1 Syarat sahnya perjanjian ekstradisiHanya saja, perjanjian ekstradisi baru sah jika memenuhi syarat-syarat berikut ini:1)     Orang yang diminta untuk diektradisi bukan termasuk rakyat negara Islam2.  Sebab, negara Islam berhak dan wajib menghukum rakyatnya atas segala kejahatan yang dilakukannya di dalam maupun di luar darul Islam.2)     Kejahatan yang dilakukan oleh warga negara asing harus dilakukan di luar darul Islam, bukan dilakukan di dalam Daar al-Islam. Ekstradisi tidak berlaku bagi warga negara asing yang melakukan kejahatan di dalam darul Islam; pasalnya, negara Khilafah adalah pihak yang paling berhak untuk memberlakukan sanksi terhadap setiap orang yang melakukan kejahatan di dalam darul Islam.Di dalam perjanjian ekstradisi terdapat beberapa hukum lain, yaitu: (1) perjanjian boleh dilakukan tanpa adanya kompensasi (timbal balik), seperti negara Islam harus mengembalikan rakyat negara tertentu, sementara negara lain tidak harus mengembalikan rakyat negara Islam kepada kita.  Hal ini terjadi pada perjanjian Hudaibiyyah dimana tidak terdapat teks yang mengharuskan adanya kompensasi timbal balik. (2) Kejahatan yang membolehkan adanya ekstradisi tidak dibedakan dengan kejahatan yang tidak membolehkan ekstradisi.  Tidak ada perbedaan antara kejahatan satu dengan kejahatan yang lain.  Dengan demikian, Negara Islam tidak harus membeda-bedakan orang yang boleh diekstradisi. Negara menjalankan sesuatu sesuai dengan apa yang dianggapnya cocok untuk setiap keadaan.3)     Penjahat boleh dikembalikan ke negara asal, meskipun kejahatan yang dilakukannya menurut syariat Islam tidak termasuk kejahatan. Kaum Quraisy menganggap masuk Islamnya seseorang dari warganya adalah suatu kejahatan, padahal menurut Islam bukanlah termasuk tindak kejahatan. Meskipun demikian Rasulullah saw konsisten dengan mengembalikan Muslim yang datang dari Quraisy ke Madinah.4)     Boleh mengekstradisi seseorang kepada bukan negara asalnya apabila hal itu terdapat di dalam teks perjanjian1.Perjanjian ekstradisi tidak akan dilakukan dengan negara lain, tanpa adanya perjanjian yang menyebutkan hal itu.  Sebab, hal ini bertentangan dengan pengertian keamanan yang diberikan negara Islam kepada negara tersebut.   Ini berbeda jika perjanjian ekstradisi merupakan pelaksanaan suatu perjanjian; pasalnya, tidak ada pertentangan antara penerapan perjanjian dengan pengertian keamanan. Pada saat itu keamanan diukur berdasarkan asas keterikatannya terhadap perjanjian2.         


1 Lihat: Ahkam adz-Dzimmiyyiin wa al-Musta’minin fi Dar Islam, oleh Abdul Karim Zaidan hal 120-121. Majmu’ah Buhuts Fiqhiyyah, oleh Abdul Karim Zaidan hal 83. At-Tasyri’ al-Jinaiy fil Islam, jld 1/300-301.

2 At-Tasyri’ al-Jinaaiy fil Islam, oleh Abdul Qadir Audah, jld 1/299.

1 At-Tasyri’ al-Jinaiy fil Islam, oleh Abdul Qadir Audah, jld 1/200.

2 Idem 1/300-301

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: